Verifikasi

Area Terbatas

Verifikasi akses Anda.

Akses Ditolak!

Akhiri Sesi?

Kakak yakin ingin keluar dari Portal Anggota PSAK FT UPR?


Sekolahku

 

Bangunan Sekolah SD-SMP SATU ATAP NEGERI 2 ARUT UTARA

Halo, sahabat dunia maya.

Mungkin bagimu, jika melihat foto di atas, aku hanyalah sebuah bangunan kayu memanjang yang sederhana. Dindingku dicat kuning krim, mungkin tak semewah dan sekokoh gedung-gedung beton bertingkat di kota besar. Atapku merah marun, lebar menaungi teras kayu tempat anak-anak biasa berlarian sebelum lonceng berbunyi.

Aku berdiri di sini, di Desa Panahan. Sebuah titik kecil yang dikelilingi rimbunnya alam Arut Utara. Sebuah desa yang tenang, jauh dari hiruk pikuk, dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya.

Orang-orang memanggilku SD-SMP Satu Atap (Satap) Negeri 2 Arut Utara.

Mengapa Aku Ada di Sini? Mungkin kau bertanya, mengapa aku harus menampung dua jenjang sekolah—SD dan SMP—sekaligus? Jawabannya ada pada kenyataan hidup di desa kami.

Di Desa Panahan, akses tidak semudah di kota. Dulu, banyak anak yang setelah lulus SD harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan sulit hanya untuk bisa duduk di bangku SMP. Banyak yang akhirnya terpaksa putus sekolah karena kendala jarak dan biaya transportasi.

Karena itulah aku lahir. Konsep "Satu Atap" adalah tugasku untuk memastikan anak-anak di desa ini bisa menuntaskan wajib belajar 9 tahun tanpa harus pergi jauh dari rumah. Aku mendekap mereka lebih lama, dari mereka masih dieja huruf 'A-B-C' hingga mereka mulai memahami aljabar.

Saksi Bisu Semangat yang Tak Terbatas Aku sadar, aku tak punya fasilitas pendingin ruangan yang membuat udara terasa dingin menggigil. Halaman di depanku pun masih berupa tanah lapang yang berumput, yang terkadang menjadi becek jika hujan deras menyapa bumi Panahan seharian.

Namun, kekurangan itu justru menjadi kekuatanku. Jendela-jendelaku yang besar membiarkan angin segar hutan Kalimantan masuk menyapa murid-muridku, menggantikan kipas angin. Keheningan desa yang jauh dari suara bising kendaraan membuat suara bapak dan ibu guru terdengar sangat jelas di dalam kelas-kelasku.

Aku adalah saksi bisu bahwa di tengah keterbatasan fasilitas, semangat anak-anak Desa Panahan untuk menuntut ilmu tidak pernah terbatas. Setiap pagi, aku merasakan getaran langkah kaki kecil mereka menaiki tangga kayu di terasku dengan penuh semangat. Aku mendengar tawa mereka, nyanyian Indonesia Raya mereka, dan keseriusan mereka saat ujian.

Aku bangga menjadi rumah kedua bagi mereka. Aku adalah bukti bahwa pendidikan tetap berdenyut kencang di jantung desa kecil ini. Doakan agar tulang-tulang kayuku tetap kokoh berdiri, untuk terus menaungi mimpi-mimpi besar anak-anak Panahan sampai mereka siap terbang tinggi.